
Menelusuri Keajaiban Lantern Festival di Taiwan dan Tiongkok – Lantern Festival atau Festival Lampion merupakan salah satu perayaan paling memukau di Asia Timur. Dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender lunar, festival ini menandai penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Saat malam tiba, ribuan lampion beraneka bentuk dan warna menghiasi langit, jalanan, sungai, hingga halaman kuil, menciptakan pemandangan yang sarat makna spiritual dan keindahan visual.
Di Taiwan dan Tiongkok, Lantern Festival bukan sekadar acara tahunan, melainkan perayaan budaya yang memadukan tradisi kuno, seni, doa, dan harapan masa depan. Meskipun berasal dari akar budaya yang sama, masing-masing wilayah memiliki ciri khas yang membuat festival ini unik dan selalu dinanti oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Sejarah dan Makna Filosofis Lantern Festival
Lantern Festival memiliki sejarah panjang yang dipercaya telah berlangsung lebih dari 2.000 tahun. Akar perayaannya dapat ditelusuri hingga Dinasti Han di Tiongkok, ketika masyarakat mulai menyalakan lampion sebagai bagian dari ritual keagamaan dan penghormatan kepada para dewa. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan rakyat yang meriah.
Secara filosofis, lampion melambangkan cahaya, harapan, dan pencerahan. Cahaya lampion dipercaya mampu mengusir kegelapan dan energi negatif, sekaligus menjadi simbol awal yang cerah di tahun yang baru. Karena dirayakan saat bulan purnama pertama, festival ini juga melambangkan kesempurnaan, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga.
Di Tiongkok, Lantern Festival identik dengan berbagai tradisi khas, seperti memecahkan teka-teki lampion (riddle lantern), pertunjukan barongsai dan naga, serta menyantap tangyuan—bola ketan manis yang melambangkan keutuhan dan kebersamaan. Anak-anak hingga orang dewasa ikut larut dalam suasana perayaan, menjadikan festival ini sebagai momen lintas generasi.
Sementara itu, di Taiwan, Lantern Festival berkembang menjadi perhelatan seni dan pariwisata berskala internasional. Pemerintah dan seniman lokal berkolaborasi menghadirkan instalasi lampion raksasa dengan tema-tema modern, mulai dari teknologi, lingkungan, hingga budaya pop. Tradisi klasik tetap dijaga, namun dikemas dengan sentuhan kreatif yang relevan dengan zaman.
Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bagaimana Lantern Festival mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna aslinya, menjadikannya tradisi hidup yang terus berkembang.
Pesona Lantern Festival di Taiwan dan Tiongkok Saat Ini
Di Tiongkok, Lantern Festival dirayakan hampir di setiap kota, namun beberapa lokasi terkenal memiliki daya tarik tersendiri. Kota-kota seperti Beijing, Xi’an, dan Nanjing menyuguhkan perayaan bernuansa klasik dengan lampion bergaya tradisional, ornamen naga dan phoenix, serta pertunjukan seni rakyat. Jalanan kota berubah menjadi lautan cahaya merah keemasan, warna yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.
Desa-desa tua dan kawasan bersejarah di Tiongkok juga menawarkan pengalaman autentik. Lampion sederhana digantung di depan rumah, menciptakan suasana hangat dan intim. Di sinilah pengunjung dapat merasakan Lantern Festival sebagai perayaan komunitas, bukan sekadar atraksi wisata.
Taiwan menghadirkan wajah Lantern Festival yang lebih modern dan spektakuler. Taiwan Lantern Festival yang berpindah kota setiap tahun menjadi magnet wisata utama. Lampion-lampion raksasa dengan teknologi pencahayaan canggih, animasi, dan desain futuristik menjadikan festival ini bak pameran seni cahaya terbuka.
Selain itu, Sky Lantern Festival di Pingxi adalah salah satu perayaan paling ikonik di Taiwan. Ribuan orang menuliskan harapan dan doa pada lampion kertas, lalu menerbangkannya ke langit malam secara bersamaan. Pemandangan langit yang dipenuhi lampion bercahaya menciptakan suasana magis yang sulit dilupakan. Tradisi ini melambangkan pelepasan harapan kepada alam semesta, sekaligus refleksi pribadi akan impian dan tujuan hidup.
Kuliner juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Lantern Festival di kedua wilayah. Di Taiwan, jajanan pasar malam seperti tangyuan, kue ketan, dan aneka street food khas Imlek menemani perayaan. Sementara di Tiongkok, tangyuan dengan berbagai isian menjadi hidangan wajib yang menyatukan keluarga di meja makan.
Dari sisi pariwisata, Lantern Festival memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Hotel, transportasi, UMKM, dan seniman lokal mendapatkan manfaat langsung dari meningkatnya jumlah pengunjung. Lebih dari itu, festival ini menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan nilai-nilai Asia Timur kepada dunia internasional.
Kesimpulan
Lantern Festival di Taiwan dan Tiongkok adalah perayaan yang memadukan sejarah panjang, filosofi mendalam, dan keindahan visual yang memukau. Dari tradisi klasik Dinasti Han hingga instalasi seni cahaya modern, festival ini menunjukkan bagaimana budaya dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Di Tiongkok, Lantern Festival menghadirkan nuansa tradisional yang sarat makna kebersamaan dan spiritualitas. Sementara di Taiwan, festival ini tampil inovatif dan artistik, menjadikannya salah satu atraksi budaya paling dinamis di Asia.
Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Lantern Festival adalah simbol harapan, cahaya, dan persatuan. Ia mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman, manusia tetap membutuhkan tradisi untuk merayakan kehidupan, mempererat hubungan, dan menatap masa depan dengan optimisme. Bagi siapa pun yang menyaksikannya secara langsung, Lantern Festival bukan hanya tontonan indah, melainkan pengalaman budaya yang menyentuh hati dan meninggalkan kesan mendalam.